Sabtu, 05 Juli 2014

INKOHERENT NUTRITIONIST: Three Records Edition #2; Scene Edition


Hahahahaha..fakk..ini apa siiiiihhh?

Tenang, jangan bingung. Itu hanya reaksi pertama saya saat menemukan kembali sebuah zine yang terkubur diantara timbunan catatan masa kuliah dulu. Jujur saja, saya cukup terkejut mendapatkannya kembali. Zine yang ada di genggaman tangan saya ini memiliki judul Inkoherent Nutritionist. Jujur saya tidak yakin apakah ini nama zine nya atau bukan, saya menyimpulkan demikian karena kata Inkoherent Nutritionist ditulis dengan ukuran font yang paling besar, besar kemungkinan itu nama zine nya. Anggap saja asumsi tersebut benar adanya, maka hal ini mengingatkan saya akan sebuah record dengan nama yang mirip, hanya saja ditambah sisipan DIY di tengah nya. Beberapa tahun ke belakang (mungkin 4-5 tahun) sebelum zine ini muncul, ada sebuah record yang merilis benefit album untuk band-band yang touring ke Indonesia. Salah satu yang saya ingat adalah rilisan dari Baracka. Mungkin namanya memang sama karena otak di belakang nya sama, mungkin pula hanya sebuah kebetulan atau bahkan mungkin ini sebuah konspirasi makhluk luar angkasa.

Zine ini sangat menarik, setidaknya bagi saya pribadi, karena formatnya yang berupa photo zine. Belum banyak zinester yang menggunakan konsep ini, terlebih lima tahun ke belakang. Sampul depan nya yang berupa kolase foto dari beberapa orang menunjukkan gambaran mengenai seperti apa konten di dalam nya. Oya, di sampul depan juga tertulis ‘scene edition’, jadi mungkin kalian sudah dapat menebak apa isinya dan siapa orang-orang yang wajahnya menghiasi sampul depan tadi. Kalau kalian menebak ini adalah serupa foto-foto panggung seperti pada umumnya zine lain, maka bersiaplah untuk kecewa. Disini kalian hanya akan mendapatkan foto individu ditambah satu atau dua buah nama yang menunjukkan keterlibatan mereka dalam skena. Ups lupa, terdapat pula tiga buah nama band yang saya curigai sebagai rekaman atau band yang sangat mempengaruhi mereka. Ya, mungkin itulah yang dimaksud dengan ‘Three Records Issue’ di sampul depan.

Baiklah, mari kita sedikit membahas tentang zine ini karena seharusnya sejak awal saya menulis ini sebagai sebuah review, walaupun saya adalah murni penikmat yang jarang sekali menilai. Jika kalian termasuk dalam golongan orang yang hanyut dalam arus pergerakan subkultur di Bandung, maka tentunya zine ini akan sangat menyenangkan untuk dinikmati. Jika kalian adalah penggiat skena  subkultur, maka kalian akan tersenyum atau bahkan tertawa melihat tampang kawan-kawan kalian disana. Tetapi jika kalian sama seperti saya yang hanya menikmati arus tanpa terlibat didalamnya, mungkin zine ini akan menjadi lebih berkesan. Bagi saya pribadi, membaca zine ini merupakan sebuah upaya semu untuk mendekatkan diri saya dengan mereka yang selama ini berjarak terlalu jauh. Berjarak karena perbedaan posisi antara penggiat dan penikmat. Jika kita sering mendengar kalimat “tak kenal maka tak sayang”, mungkin seperti itulah zine ini ingin memperpendek jarak yang ada. Sehingga kita yang selama ini hanya mengagumi, akhirnya berkesempatan untuk mengenal lebih dekat mengenai mereka walaupun hanya melalui perspektif yang sangat sangat umum.

Tentang Jarak Saya/Kita dan Mereka
Mari kita bahas ini dari sisi penikmat. Zine ini memuat wajah-wajah orang yang tidak asing bagi saya. Benar, sudah cukup lama mungkin saya menjalani peran sebagai penikmat geliat subkultur di Indonesia, khususnya di Bandung. Mereka yang wajahnya ditampilkan dalam zine ini adalah mereka-mereka yang menyandang label tokoh, setidaknya bagi saya. Tokoh-tokoh yang mewarnai tumbuh kembang saya sejak belia hingga agak dewasa. Tokoh-tokoh yang harus diakui, dapat saja saya jajarkan dalam barisan pahlawan masa muda saya. Berlebihan? Mungkin saja. Tetapi cobalah kalian sadari, ada berapa banyak individu seperti saya? Mungkin ada ribuan dari kita yang setia berada dalam barisan penikmat yang akan terus berjarak dengan mereka. Jarak inilah yang akan menciptakan perlakuan berbeda. Bagi mereka sesama penggiat, jarak tentunya akan berada dalam rentang sedang hingga sangat dekat. Rentang jarak ini adalah rentang jarak pertemanan, sehingga relasi nya lebih cenderung horizontal. Sementara bagi para penikmat, relasi nya akan cenderung menjadi vertical, karena rentang jarak antara penikmat dan penggiat biasanya akan berada pada kategori jauh atau sangat jauh. Inilah yang menjadi penjelasan logis bagi saya mengapa saya memposisikan mereka sebagai tokoh, pahlawan masa muda, idola, role model atau apapun namanya.

Jarak ini tentunya sengaja saya pelihara. Terkadang akan sedikit menyakitkan jika saya harus mengetahui kehidupan mereka yang sesungguhnya. Selalu ada kemungkinan dimana ada saja satu dua hal dari mereka yang kurang saya suka, itu yang saya tidak mau. Sangat manusiawi sesungguhnya, dimana saya menyadari bahwa tidak mungkin saya menyukai semua aspek kehidupan dari seseorang. Tidak akan pernah ada figur yang seratus persen ideal dalam diri seseorang, siapapun itu. Tetapi coba pahamilah ini dari kaca mata seorang penikmat. Disini saya tidak sedang memilih pasangan hidup, peran dimana kita suka tidak suka dituntut untuk menerima figur dengan segala ketidaksempurnaannya. Disini saya sedang memilih figure idola, tentunya saya cukup melakukan inventarisasi mengenai apa-apa saja dari mereka yang saya anggap keren. Begitulah saya tegaskan lagi akan pentingnya memelihara jarak. Saya sama sekali tidak menginginkan ada cela dan cedera dalam figur idola saya.

Tentang Mereka
Mereka yang menyandang gelar tokoh tersebut, saya sadari sepenuhnya adalah manusia biasa seperti halnya saya. Memang benar, seperti yang saya ceritakan diatas, saya membutuhkan mereka sebagai figur panutan. Tetapi saya rasa perlu saya tegaskan bahwa pengidolaan versi saya tentunya bukanlah serupa pengkultusan berhala sebagaimana mereka memperlakukan idola pada kultur popular. Harus kalian pahami, jarak yang saya pelihara bukanlah untuk menjadikan mereka manusia super. Jarak tersebut memiliki batas toleransi yang mengijinkan saya untuk tetap mengaguminya sebagai sesama manusia. Hal ini mungkin yang tidak dimengerti oleh sebagian penikmat lain. Intinya, jika harus memposisikan idola sebagai berhala, maka silahkan beranjak ke kultur populer. Disini adalah sebuah subkultur, pengkultusan apalagi hingga status berhala bukanlah opsi yang menarik bagi pelaku nya.

Zine ini, Inkoherent Nutritionist, menampilkan para idola dalam sisi mereka yang lebih humanis. Menunjukkan sisi yang tidak banyak dipahami oleh saya dan kawan-kawan lain yang berjarak terlalu jauh. Sisi yang senantiasa mengingatkan saya untuk tidak lantas terjebak dalam pola pengkultusan ala budaya populer. Disini Frans (setidaknya itulah identitas yang dia sebutkan) berhasil menangkap mereka dalam sebuah frame yang manusiawi dan membumi. Dia berhasil menangkap berbagai emosi yang terpancar dari wajah mereka, terlepas itu semua natural atau artificial. Dia juga berhasil menerjemahkan keseharian mereka melalui sebuah foto. Sepertinya disini saya dipaksa untuk sepakat bahwa sebuah gambar mampu melukiskan ribuan kata dan jujur saja, dia berhasil. Jika selama ini saya melihat mereka dengan gagah diatas panggung, sangar dalam liputan dan keren dalam wawancara, maka disini saya bias merasakan hal yang sama sekali berbeda. Kembali menyoal jarak, foto-foto yang disajikan dalam zine ini berhasil memperpendek jarak antara saya/kita dan mereka. Berhasil membuat saya sejenak merasa bahwa saya adalah sesama penggiat. Berhasil sesaat menggiring saya dalam sensasi jarak menengah dan dekat, tidak lagi jauh seperti yang sesungguhnya. Sungguh menyenangkan. 

Tentang Hari Ini
Lima tahun terlewati sejak pertama kali saya membaca zine ini. Lima tahun. Sebuah waktu yang cukup lama walaupun mungkin tidak terasa. Banyak yang telah berubah dalam lima tahun, walaupun tidak sedikit yang tidak berubah. Lihat bagaimana teknologi berubah dalam lima tahun ini. Berubah, pesat bahkan. Lihat bagaimana histeria menjelang Pemilu. Tetap sama, memburuk bahkan. Hal yang sama terjadi pada saya. Hal yang sama mungkin terjadi pada para idola saya tadi. Berkurangnya intensitas saya menyaksikan mereka berlaga di atas panggung menjadikan jarak yang dulu sudah jauh, kini kian tidak terjangkau. Hanya sesekali saya melihat beberapa dari mereka dalam sebuah liputan di televise lokal. Sepintas banyak yang berubah dari mereka. Setidaknya dari raga yang kian menua. 

Seandainya ada dari kalian yang mengenal Frans Ari Prasetyo yang membuat zine ini, sudilah kalian sampaikan permintaan saya padanya. Saya sangat ingin melihat Inkoherent Nutritionist : Three Records Edition #2 ; Scene Edition ini dibuat ulang dengan kondisi sekarang. Saya begitu terasing sekarang. Begitu datar dan membosankannya kehidupan saya saat ini. Saya begitu merindukan kabar para idola saya. Ingin sekali lagi saya merasakan indahnya sensasi memperpendek jarak antara penggiat dan penikmat. 

-
Reviewer: Jagal Babi

2 komentar: