Minggu, 06 Juli 2014

Sister Be Strong #0: Sebuah Kompilasi Tentang Kita (Perempuan)

Saya aslinya nggak tahu, ini zine punya siapa, siapa editornya dan siapa saja yang berpartisipasi di dalamnya, karena saya juga mendapat zine ini dari rekomendasi seorang teman, yang juga memberikan tautan untuk mengunduhnya. Jadi, secara fisik saya nggak punya karena fisiknya ada di teman saya (nanti kalau mudik, saya copy ya! hehe). Yang saya tahu, zine ini adalah persembahan dari Needle ‘n Bitch, sebuah ruang aman dan nyaman bagi perempuan. Ruang aman dan nyaman yang tidak hanya berfungsi sebagai hunian, tapi juga sebagai ruang berproses bagi para perempuan karena selama ini, perempuan selalu jadi makhluk yang dikesampingkan, di tengah tatanan patriarkis yang menyedihkan. Hiks.

Jika ada orang-orang yang membuat zine untuk menyalurkan kesenangan, memberitahu kabar, menyampaikan pesan, melecut semangat, menyuarakan kemarahan, dan lain-lain yang bentuknya ‘menyemangati’ orang lain, itu sudah biasa. Tapi, adakah zine yang dilempar ke publik dan seketika itu juga, orang yang membacanya jadi membentuk refleksi sedih? Ternyata ada. Zine itu nggak melulu melemparkan kesenangan-kesenangan, tapi ada juga zine yang membuat pembacanya tiba-tiba ingin menangis, bahkan ketika membaca zine, pembacanya bergetar seluruh di badan, seluruh hati. Jari-jari tremor dan mulai muncul titik-titik air yang tak pernah diminta alam bawah sadar untuk meluncur turun. Macam orang yang tiba-tiba ingat mati ketika membaca halaman-halaman majalah mini ‘Hidayah’. Itu lho, majalah yang menyajikan azab-azab alam kubur, dan mencoba menakut-nakuti manusia dengan doktrin agama. Oke, ini skip saja. :| 
 
Dan zine macam itu, saya temukan di Sister be Strong. Halaman awal yang sepertinya merupakan editorial, sudah dimulai dengan kisah antara sang editor dengan kawannya yang menelepon di malam buta. Kawannya itu, berbicara tentang kondisinya pasca menikah. Rupanya, pemikiran saya selama ini mengenai ‘pemerkosaan di dalam pernikahan’ itu memang benar-benar terjadi. Kultur patriarkis yang ada di masyarakat ini secara tidak langsung telah menanamkan pemikiran ‘kolektif’ bahwa laki-laki itu adalah pemilik kuasa atas keputusan, dan juga tubuh para perempuan. Laki-laki berhak untuk merepresi perempuan, apalagi jika statusnya sebagai suami. Di halaman awal ini, saya sudah mengerti, akan kemana isi zine ini. Meski di dalam editorial disebutkan bahwa zine tersebut entah kapan akan diterbitkan lagi, tapi saya rupanya jadi menanti-nanti.

Setelah halaman editorial, kisah “Perempuan Ini…” membuat saya bergetar hebat. Seperti yang saya ceritakan tadi, jari-jari tiba-tiba terserang tremor singkat. Hati saya rasanya sakit, membaca kisah tentang seorang perempuan yang dicampakkan setelah direpresi lelaki. Tapi, getaran hebat itu tidak berlangsung lama, karena rupanya sang “perempuan yang dicampakkan” itu dapat melawan dan menyusun strategi untuk memenangkan hak hidupnya kembali. Jadi, sampai sini saya menyimpulkan dua poin sentral dari Sister be Strong, yaitu selain menyebarkan empati, zine ini pun melecutkan semangat pembacanya lagi.

Berkali-kali. Cerita yang disuguhkan masih seputar perempuan. Kita akan dibuat sedih di awal, dan pada akhirnya kita akan dipaksa untuk bangkit berdiri, setelah merasakan apa yang terjadi pada para perempuan itu. Di salah satu rubrik, “Fact Sheet” namanya, saya disuguhi beberapa fakta yang sudah banyak disosialisasikan pada ribuan umat manusia di Indonesia, tapi sepertinya hanya dianggap sebagai angin lalu. Fakta-fakta tentang perempuan, aborsi, kehamilan tidak diinginkan, sistem reproduksi, dan kekerasan dalam perempuan.

Yang membuat saya dapat menjalin ikatan dengan Sister be Strong mungkin karena cerita-cerita di dalamnya bukanlah cerita yang bebas dikarang semau-maunya manusia. Saya menebak-nebak, pastilah cerita yang ada di dalamnya merupakan cerita yang terjadi juga di kehidupan nyata, mungkin pada ibumu, pada anak perempuanmu, kakak atau adik perempuan, saudara jauh perempuan, bibimu, nenekmu, bahkan para perempuan-perempuan masa lalu yang bisa bertahan untuk menceritakan kisahnya. Kisah-kisah ini bukanlah kisah-kisah baru, sebab masih ada ratusan kisah lain yang menyeruak untuk minta diceritakan. (Jadi, kalau saya boleh request sama kakak editornya, kalau baca review ini, please banget dooong Sister be Strong dirilis lagi. Hiks)

Masih banyak cerita yang menanti ruang untuk membantunya tersebar. Karena, mungkin saja masih banyak perempuan lain yang tidak bisa bercerita karena takut, malu, tidak menemukan mereka yang peduli, dan tidak menemukan mereka yang bisa menampung cerita dengan empati. 

Di tengah-tengah penulisan review ini, lagu Mushafear – Dead juga menemani empati-empati itu terbang jadi harapan yang sama bagi para perempuan. Bunyinya begini.

 “Dengan empati aku dengarkan semua keluh kesahmu. Dengan empati aku dengarkan semua kisah hidupmu. Dengan empati aku dengarkan, kamu. Duniamu di sana, jauh dari bahagia. Tahukah kamu, aku pun terluka.”

Sedih saya. Jadi suka nggak kuat, karena saya orangnya itu ya kalau sudah sedih, sedih saja. Kisah-kisah Sister be Strong ini mungkin nggak akan bisa dicerna baik-baik sama mereka manusia atau perempuan yang belum pernah mengalami kehidupan seperti yang dirasakan para pengirim kisah di Sister be Strong. Para pengirim kisah ini, didominasi oleh mereka yang berada di tatanan patriarki dan juga kondisi sosial yang berada di bawah rata-rata. Jadi, kesakitan mereka itu benar-benar penuh. Yang membuat hebat adalah, bagaimana Sister be Strong ini menyampaikan kisah mereka dengan apa adanya, eksplisit tanpa sensor-sensor bahasa yang dibuat untuk menyegarkan mata-mata pembaca yang tidak mengerti. Justru, yang eksplisit semacam inilah yang bisa membuka mata para pembaca. Tidak bisa tidak, pembaca akan dipaksa untuk mengerti bahwa, “Hei, kayak gini lho kondisi saudara perempuan kalian! Dihajar, dimaki, dihujani pukulan, ditinggalkan! Dan kalian cuma bisa gosip-gosip murahan sambil nyalon, sambil nongkrong di Setarbak, ngecengin cowok-cowok kaya yang cuma mau ngenthu sama kalian doang. Cuma peduli sama kalian kalau kalian masih cantik dan bisa melayani nafsu hewani lelaki-lelaki bejat. Fuck!”

Kira-kira kayak begitu… Saya tidak bisa berpanjang lebar lagi, karena dari empatpuluh halaman zine ini, kisah-kisah mengalir dan berakhir, meski di dunia nyata, permasalahan perempuan tidak pernah benar-benar selesai. Lagipula, saya bingung juga mau bicara apa, karena urusan perempuan ini seakan-akan jadi urusan yang hanya dimengerti oleh segelintir orang saja. Akan selalu ada hal-hal menyakitkan yang dialami perempuan, selama patriarki dan pemilah-milah strata melalui sosialita masih ada.

To all of my mom, my sister, my daughter, my grandmother, my great grandmother, my girlfriends, my love, be strong…
-
Reviewer: Sebut Saja Namanya “Calendula
                                            

2 komentar: